Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali melakukan rebalancing indeks LQ45 per Agustus 2026. Dua saham baru resmi masuk menggantikan posisi lama untuk menjaga kualitas likuiditas dan kapitalisasi pasar indeks saham blue chip Tanah Air. Keputusan ini diumumkan pada akhir Juli 2026 dan berlaku efektif mulai 3 Agustus 2026.
PT Indika Energy Tbk (INDY), emiten energi dan pertambangan batu bara yang juga telah berekspansi ke sektor energi terbarukan, serta PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL), perusahaan nikel terintegrasi yang listing di BEI pada 2023, menjadi dua nama baru yang menghuni jajaran LQ45. Rebalancing ini menjadi momentum penting bagi investor ritel maupun institusional untuk menyesuaikan portofolio.
Daftar Lengkap Saham LQ45 per Agustus 2026
Berdasarkan data BEI dan riset dari berbagai sumber, berikut adalah saham-saham yang masuk dalam indeks LQ45 periode Agustus 2026 - Januari 2027:
Sektor Keuangan: BBCA (Bank Central Asia), BBRI (Bank Rakyat Indonesia), BMRI (Bank Mandiri), BBNI (Bank Negara Indonesia), BRIS (Bank Syariah Indonesia), ARTO (Bank Jago), NISP (Bank OCBC NISP).
Sektor Infrastruktur & Telekomunikasi: TLKM (Telkom Indonesia), ISAT (Indosat), EXCL (XL Axiata), JSMR (Jasa Marga), WIKA (Wijaya Karya), ADHI (Adhi Karya), PTPP (PP Persero).
Sektor Energi & Sumber Daya Alam: ADRO (Adaro Energy), ITMG (Indo Tambangraya Megah), PTBA (Bukit Asam), INDY (Indika Energy) — NEW ENTRY, NCKL (Trimegah Bangun Persada) — NEW ENTRY, ANTM (Aneka Tambang), MDKA (Merdeka Copper Gold), TINS (Timah).
Sektor Konsumen & Ritel: UNVR (Unilever Indonesia), ICBP (Indofood CBP), INDF (Indofood Sukses Makmur), HMSP (HM Sampoerna), GGRM (Gudang Garam), KLBF (Kalbe Farma), SIDO (Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul).
Sektor Properti & Konstruksi: BSDE (Bumi Serpong Damai), PWON (Pakuwon Jati), CTRA (Ciputra Development), SMRA (Summarecon Agung).
Sektor Lainnya: ASII (Astra International), UNTR (United Tractors), AKRA (AKR Corporindo), INKP (Indah Kiat Pulp & Paper), TKIM (Pabrik Kertas Tjiwi Kimia), SMMA (Sinar Mas Multiartha), MAPI (Mitra Adiperkasa), ACES (Ace Hardware Indonesia).
Mengapa INDY dan NCKL Layak Masuk LQ45?
PT Indika Energy Tbk (INDY) berhasil mencatatkan kinerja yang solid sepanjang 2025-2026. Selain bisnis pertambangan batu bara yang tetap stabil, INDY gencar melakukan diversifikasi ke sektor energi hijau melalui anak usahanya. Kapitalisasi pasar INDY yang konsisten besar dan volume transaksi yang tinggi membuatnya memenuhi syarat likuiditas BEI untuk bertahan di LQ45.
Sementara itu, PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) menjadi primadona sektor nikel. Sebagai perusahaan holding yang menaungi beberapa tambang nikel di Morowali dan Halmahera, NCKL diuntungkan oleh booming kendaraan listrik (EV) global. Permintaan nikel untuk baterai kendaraan listrik terus melonjak, membuat valuasi NCKL menarik di mata investor institusional.
Prospek IHSG dan Indeks LQ45 Menuju Akhir 2026
Berdasarkan data Yahoo Finance per 30 Juli 2026, IHSG tercatat di level 6.186 poin dengan 52-week high di 9.174 poin. Meskipun IHSG masih turun sekitar 32,28% dari level tertingginya dalam setahun, data menunjukkan bahwa indeks saham Indonesia sempat menguat 22,13% sepanjang tahun 2025, bahkan mengalahkan indeks Malaysia dan China.
Analis memandang bahwa masuknya INDY dan NCKL ke LQ45 memberikan sentimen positif bagi sektor energi dan pertambangan. Indeks LQ45 secara fundamental mencerminkan 45 saham paling likuid dengan kapitalisasi pasar besar, sehingga pergerakannya sering dijadikan acuan oleh investor asing dan manajer investasi reksa dana.
Untuk kuartal III dan IV 2026, sejumlah katalis positif di antaranya potensi pemangkasan suku bunga The Fed yang bisa mendorong aliran modal asing ke pasar emerging market seperti Indonesia. Bank Indonesia diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga acuan di level yang kompetitif untuk menjaga stabilitas rupiah yang saat ini berada di kisaran Rp18.073 per dolar AS.
Strategi dan Tips Investor Menyambut Rebalancing LQ45
Bagi investor ritel, rebalancing LQ45 adalah momentum untuk melakukan evaluasi portofolio. Saham-saham yang masuk LQ45 biasanya akan diburu oleh reksa dana indeks dan ETF karena manajer investasi wajib menyesuaikan komposisi portofolio mereka sesuai komposisi indeks.
Beberapa tips menghadapi rebalancing LQ45 Agustus 2026:
- Perhatikan saham INDY dan NCKL — volume transaksi biasanya meningkat di minggu pertama setelah pengumuman rebalancing.
- Diversifikasi portofolio di sektor-sektor unggulan LQ45 seperti perbankan (BBCA, BBRI), energi (ADRO, INDY), dan konsumen (UNVR, ICBP).
- Manfaatkan koreksi harga jangka pendek akibat aksi profit taking untuk akumulasi saham blue chip berkualitas.
- Pantau pergerakan IHSG dan LQ45 secara berkala — support level IHSG saat ini berada di 6.000-6.100.
- Pertimbangkan investasi rutin (Dollar Cost Averaging) di saham LQ45 untuk mengurangi risiko timing market.
Dampak Rebalancing bagi Reksa Dana dan ETF
Rebalancing LQ45 berdampak langsung pada reksa dana indeks dan Exchange Traded Fund (ETF) seperti Premier ETF LQ45 (XPLQ) dan berbagai produk indeks lainnya. Manajer investasi akan melakukan penyesuaian portofolio dengan membeli saham yang baru masuk dan menjual saham yang keluar. Proses ini biasanya terjadi pada H-3 hingga H+3 dari tanggal efektif perubahan.
Berdasarkan data historis, saham-saham yang baru masuk LQ45 cenderung mengalami kenaikan harga rata-rata 3-5% dalam sebulan pertama karena adanya tambahan permintaan dari manajer investasi institusional dan reksa dana.
Sebaliknya, saham yang keluar dari LQ45 biasanya mengalami tekanan jual sementara. Namun bagi investor fundamental, tekanan tersebut justru bisa menjadi peluang akumulasi jika saham yang dikeluarkan memiliki fundamental yang masih baik.